Dari Benci Menjadi Cinta

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo Drs Ec Asrofi, MM. ternyata pernah menjadi guru dan spesialis akuntansi. Menariknya lagi, akuntansi sebenarnya adalah mata pelajaran yang awalnya paling tidak disukai.

Pak Asrofi, demikian sapaan akrabnya, saat ditemui di Pendopo Pemkab Sidoarjo Minggu (11/2) menceritakan kisahnya yang awalnya benci dengan pelajaran akuntansi tetapi ternyata malah menjadi guru dan dosen akuntansi, bahkan pernah mendirikan kursus Bon A dan Bon B era 80-an.

Pria kelahiran 1961, warga asli Sidoarjo, tepat di dusun Bareng Masjid, desa Sidorejo, kecamatan Krian, Sidoarjo ini mengaku pernah sekolah di SMEA Pemuda Krian jurusan tata niaga/pemasaran.

Di sela sela waktu sekolah, Asrofi masih sempat bekerja sebagai tukang sepatu. Ia berhasil lulus dan melanjutkan kuliah di STIKEN Surabaya jurusan Akuntansi.

“Saya itu sangat benci dengan pelajaran akuntansi, tidak tahu malah mengambil jurusan akuntansi,” ungkap mantan Kepala Dishub Sidoarjo ini sembari tersenyum.

Akhirnya saat semester 5 dia melamar sebagai guru di SMP Al Islam Yapalis Krian, Sidoarjo pada tahun 1984 dan langsung diterima sebagai pengajar bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan pembukuan sederhana. “Padahal waktu itu banyak sarjana yang melamar, tapi tidak diterima,” katanya.

Dalam perjalanan mengajar yang baru sekitar 3 bulan pada tahun 1984 itu, ia didatangi Kepala Sekolah dan Wakasek SMEA Pemuda Krian yang meminta agar mau mengajar lagi di SMEA Pemuda Krian untuk pelajaran akuntansi.

“Dalam waktu satu semester, saya nge-drill anak-anak. Alhamduillah hasil Unas sangat bagus-bagus sekali. Jadi saya harus mengajar rangkap di dua sekolah, jarang pulang kerumah, ” kenang Asrofi.

Walaupun kondisi jam mengajarnya sudah penuh di dua sekolahan, namun dirinya masih sempat mendirikan lembaga kursus akuntansi pada malam harinya, yakni Bon A dan Bon B di era 80-90 an. Di era tersebut bagi siswa yang berhasil membawa ijazah Bon A dan Bon B masih sangat mudah untuk mencari pekerjaan.

Setelah tahun 1987 ada kelas jauh dari Universitas Wisnu Wardana Malang di Sidoarjo, akhirnya dia juga mengajar lagi di universitas tersebut untuk mata kuliah akuntansi dan perkoperasian.

“Saya pun sempat disuruh di Malang. Pokoknya waktu itu sudah berpenghasilan cukup banyak kalau dibanding PNS,” ungkap mantan Sekretaris Pol PP ini.

Tahun 1988 seorang Asrofi pun ikut mendaftar jadi PNS di gubernuran namun tidak lulus. Tahun 1989 ikut lagi tes di kementerian dalam negeri, dan diterima sebagai pegawai Depdagri, DKP Sidoarjo, di kantor Bangdes sekitar 5 tahun, makanya NIP -nya adalah 01.

“Setelah itu masuk struktural pertama adalah sebagai Kepala Kelurahan Kemasan,” terang Asrofi lagi.

[Sumber: Harianbirawa.com – ach]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *